Bagi bangunan di Negara tropis, cahaya matahari yang berlimpah –limpah selain mendatangkan keuntungan juga dapat menimbulkan kerugian, sebab cahaya tersebut juga mengandung panas. Cahaya yang berlebihan, selain menimbulkan silau juga potensial memanaskan udara dan benda- benda lain yang tertimpa cahaya tersebut. Karena perbedaan posisi matahari, bangunan di Negara empat musim atau Negara dingin, memeliliki desain sedemikian rupa agar cahaya matahari yang sangat minimal dapat dimanfaatkan seluruhnya untuk pencahayaan alami pada siang hari.
Kondisi ini telah membuat jendela- jendela di empat musim atau Negara beriklim dingin dibiarkan telanjang. Sementara di Negara tropis, cahaya yang berlimpah meembuat pemakaian vahaya matahari lebih maksimal, sehingga pencahayaan buatan umunya hanya di butuhkan pada siang atau malam hari. Namun demikian , tanpa siasat yang memadai, radiasi panas matahari yang datang bersamaan dengan pancaran cahaya, yang semestinya pada jam- jam tertentudi batasi, justru, ikut masuk ke dalam bangunan dan turut memanaskan udara di dalam ruangan.
Banyak bangunan yang mengklaim diri sebagai bangunan tropis dengan menambah elemen air dalam desain, agar udara menjadi lebih sejuk, sehingga saat ini kontraktor maupun “Arsitek Rumah” berupaya membuat bangunan tersebut sejuk demi kenyamananan konsumen maupun pribadi. Bagi Negara tropis dengan tingakt kelembaban tinggi seperti Indonesia, penempatan elemen air di daam bangunan sesungguhnya tidak terlalu cepat, karena tanpa desain yang benar, hal ini akan justru akan menambah kelembaban di dalam bangunan

























































